Seseorang menekuri malam yang meninggi. Pada tekuran kesekian, benaknya dipenuhi beberapa hal yang tiba-tiba hinggap dan tak mampu ia tolak. Bayangkanlah bila esok itu tak ada. Bayangkanlah bila ini malam adalah saat terakhir kita bersama raga. Bayangkanlah bila hanya ada hari-hari kemarin, tak ad esok. Terbayangkankah....?
Tak ada jawaban kecuali monolognya di ujung malam. Ya.... bila terbayangkan, resapilah. Bila ia bayangan tak jelas arah, tanyalah kenapa pada jiwa. Bila ia bayangan menakutkan, buanglah rasa takut itu. Bila ia bayangan yang indah kepasrahan, sambutlah. Apapun itu syukurilah. Setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan seandainya esok itu tak ada.
Bila esok itu tak ada buat saya, he, begitulah monolognya, tentu saja dia ikhlas. Ikhlas telah merengkuh hari-hari kemaren yang penuh warna meski mungkin tak sempurna. Sebab tak selamanya lengkung langit bisa dijadikan tempat menengadah bagi manusia.. Akan ada saatnya ia tertutup pada sebagian manusia yang telah tiba masanya. Mungkin tertutup pada dia, padamu, pada siapa saja. Maka, mari berjuang agar saat esok itu tak ada buat kita, si lengkung langit tersenyum untuk kita..

0 komentar:
Posting Komentar